Selasa, 06 Maret 2012

membudayakan rasa malu itu susah

Dalam artikel Romo Maryo yang berjudul “Rasa malu sudah hilang”. Yang di publikasikan pada senin 20 Februari 2012,  mencoba memperlihatkan nilai dasar manusia yang memiliki rasa dan budaya. Artikel yang muncul dari diskusi kecil tersebut memperlihatkan banyak sekali nilai rasa malu yang sudah tidak di miliki masyarakat Indonesia. Tidak memiliki rasa malu ketika melakukan korupsi, tidak memiliki rasa malu ketika selingkuh, tidak memiliki rasa malu ketika mencontek, dan tidak memiliki rasa malu ketika membunuh manusia lain.
Menanggapi artikel tersebut saya mulai memproyeksikan pemikiran saya, mengulang kembali masa kecil yang pernah saya hadapi. Hasilnya memperlihatkan bahwa orang tua dan guru memang mengajarkan beberapa bagian dari sifat menghilangkan budaya malu dan mengajarkan secara tidak langsung untuk kebal terhadap rasa malu dari kesalahan yang kita lakukan. Dibidang pendidikan secara umum, sudah luntur hingga pada saat ini. Pendidikan anak di rumah di ajarkan rasa takut dengan cara yang tidak baik. Pada anak yang sendiri yang nakal pada malam hari, dimana orang tua malas untuk menemani dan membimbing anak. Orang tua cenderung menakut-nakuti anak dengan gosip adanya hantu. Maka anak akan terkenang hingga besar jika bermain dalam gelap maka akan di datangi oleh hantu. Tak jauh beda dengan dunia pendidikan khususnya di sekolah, ketika ada anak yang berbuat melanggar aturan, baik itu individual maupun berkelompok. Hukuman yang diberikan cenderung tidak mendidik. Berjemur di lapangan bola, hormat pada bendera di depan lapangan upacara, lari keliling sekolah hingga beberapa putaran, berdiri di luar kelas, membersihkan toilet. Memang pada dasarnya hukuman tersebut menginginkan efek jera dari pada siswa yang melakukan pelanggaran, namun ketika hal tersebut tidak di barengi dengan bimbingan moral dari guru maka yang akan di pahami oleh siswa adalah bentuk hinaan yang mereka terima. Pada akhirnya mereka akan menganggap bahwa sanksi yang mereka berikan tidaklah memalukan dan membuat jera lagi, melaikan menjadi hal yang di inginkan. Seperti halnya siswa SMA Nusantara Sintang yang lebih suka diberikan sanksi keuar kelas dan tidak mengikuti pelajaran, daripada mengikuti pelajaran yang di anggap mereka membosankan. Disinilah budaya bolos mulai merajalela dan berdampak bagi banyak siswa.
Di masa kini, kita mengutuk keras praktek korupsi yang dilakukan oleh kalangan tertentu (karena tidak bisa kita hakimi dengan menyebut kalangan politik saja yang melakukannya). Ketika budaya bohong di dalam kelas yang dulunya kita gunakan untuk menyangkal tugas dan saksi yang kita terima atau kita lakukan, diterapkan dalam dunia pekerjaan. Maka hasilnya sempurna untuk mengelabuhi masyarakat yang awam tidak memahami secara mendalam mengenai masalah uang dan keputusan politik. Mengelabuhi surat keuangan akan sangat menyenangkan bagi oknum yang sudah terbiasa karena dilakukan sejak di dunia pendidikan.
Kalaupun sejarah pendidikannya begitu baik dan teladan, ketika di dunia pekerjaan yang menjadi masalah adalah kesempatan yang lapang untuk melakukan korupsi dalam berbagai hal. Mulai dari berbohong tentang hasil tugas yang di buat dari hasil copy paste dari sumber dan bahan yang ada di internet, bolos kerja bagi para PNS yang akhirnya mal-mal menjadi tujuan kerja mereka, manipulasi data keuangan yang marak terjadi di kalangan auditor akuntansi yang bekerjasama dengan pengusaha kaya yang tak ingin merugi karena harus membayar pajak yang di anggap besar, keputusan politik yang di terapkan dalam aturan pemerintah begitu banyak menguntunggkan pihak tertentu dan akhirnya membuka lapangan korupsi yang luas, hingga berbagai macam kebohongan politik ketika kampanye yang dibuat untuk mengangkat popularitas kalangan dan tokoh tertentu saja. Dampak akhir dari sistem pendidikan yang tidak berkarakter mungkin seperti ini, namun bukanlah hanya disesali saja namun juga harus di benahi dan di control dengan baik.
Dalam kasus penggelapan simpanan deposito bank yang dilakukan oleh seorang wanita cantik yang akhirnya membawa dia begitu terkenal karena cara ilustrasi media terlalu tinggi imajinasinya, berdampak dengan tanggapan masyarakat yang menilai bahwa tindakan yang dilakukan oleh M ini tidaklah semuanya salah. Hal ini diperkokoh dengan budaya sidang para terdakwa bergolongan kaya, dibiasakan dengan pakaian mewah dan mahal. Seakan-akan di bui adalah sarangnya toko pakaian mahal dan terkenal saja. Lebih parah lagi pencitraan korupsi yang juga memihak kepada oknum tertentu. Media di plot untuk mempublikasikan tindakan koruptor tidak selamanya salah, di sertai drama sinetron dalam berlangsungnya sidang pidana korupsi ketika dilaksanakan.
Mengutip pendapat Rm. Maryo yang berpendapat jika “pendidikan itu proposes dari nol sampai berkembang, bukan cetakan semata” saya juga memandang bahwa tolak ukur yang harus kita perbarui mulai dari tingkat pendidikan. Pendidikan dasar hingga pendidikan tingkat atas, berlanjut di dunia perguruan tinggi. Rm. Mangunwijaya juga menilai bahwa “setiap sistem pendidikan adalah pemantulan dari jiwa dan aspirasi suatu masyarakat” jika kondisi masyarakat mulai banyak mencitrakan masalah kejujuran, akan sama pula dengan sisi lain lingkungan kita apalagi pendidikan masyarakat saat ini.

Komunikasi siswa yang tidak produktif
Berbicara tentang anak Sekolah Dasar kita tidak lepas dengan masa kecil kita dahulu. Ketika tiba disekolah, yang pertama akan dilakukan anak SD adalah bertemu dengan teman sebaya, kemudian menikmati permainan kecil dengan sesama teman. Itu dilakukan hingga bel masuk kelas berbunyi. Di kelas pun, kita lebih lekas bosan dalam menangkap pelajaran yang disampaikan guru. Cenderung bermain dengan teman sebangku atau mengganggu teman lain di samping kita. Sangat sedikit akhirnya pengetahuan yang kita bisa dapatkan dari proses belajar mengajar. Mungkin ini lah yang menyebabkan proses belajar mengajar di tingkat SD tidaklah begitu lama.
Karakteristik siswa SD yang kami dapat lihat beberapa di antaranya ada
·         Senang bermain
·         Senang melakukan sesuatu secara langsung
·         Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
·         Senang bergerak
·         Senang bekerja bersama-sama
Memang kebiasaan anak dari masa ke masa tidak banyak berbeda, namun kondisi bermain yang mulai memberikan perbedaan. Hal ini lah yang mengakibatkan timbul perbandingan kita akan pola kehidupan anak dari masa ke masa. Bagaimana pola komunikasi mereka hingga seperti apa lingkungan mereka saat itu dan kini. Berikut ulasan kecil kami mengenai perkembangan komunikasi anak dari masa ke masa.
Anak era 90-an
Jika kita pikir ulang kisah SD kita dahulu, seringkali percakapan tidak produktif kita bahas di lingkungan sekolah. Misalnya saja kita sering membahas tentang kisah film yang kita tonton seperti “kera sakti”, “power ranger”, “satria baja hitam”, dan masih banyak lagi percakapan tentang film yang kita sering bicarakan. Sadar atau tidak, sebenarnya percakapan tersebut membuat kita tidak memikirkan fokus yang harus kita kerjakan di sekolah.
Guru saat kita masih SD sangat keras untuk mengarahkan kita agar fokus mengajar, seringkali kekerasan seperti pukulan dan hukuman membersihkan WC diberikan; namun tidaklah menyelesaikan masalah ketika sanksi itu kita terima. Anak yang dibiasakan keluar dari ruang kelas karena kesalahannya akan menjadi malas ketika masuk kedalam kelas. Situasi lingkungan kelas yang tidak dapat menerima kondisi anak akan mengakibatkan kebencian anak itu sendiri terhadap kelas dan guru.
Memang jika kita sadari saat ini, topik pembicaraan di lingkungan sekolah baiknya adalah membahas tentang pelajaran. Namun kita juga menyadari bahwa kondisi bimbingan dalam lingkungan sekolah sendiri tidak memadai untuk anak dapat mengembangakan proses belajar. Ketika kurikulum CBSA tiba di sekolah dasar saat itu, guru cenderung membiasakan siswa untuk mencatat habis buku yang di jadikan pegangan. Dari 8 mata pelajaran wajib, paling tidak ada 1 mata pelajaran yang ditekankan untuk mencatat. Sangat jarang siswa di bimbing untuk mengembangkan proses pengetahuan dari pembelajaran itu sendiri.
Satu hal yang membuat bangga kita ketika duduk di sekolah dasar, lagu anak-anak ketika itu masih sangat terkenal. Mulai dari “aku cinta rupiah”, “kasih ibu”, “naik kereta api”, dan masih banyak lagu anak-anak yang sangat ngetrend disaat itu. Di dukung oleh artis anak-anak yang begitu ramai, mengakibatkan topik pembicaraan anak-anak dapat  kita batasi hanya membicarakan tentang kehidupan anak-anak saja. Setidaknya, anak SD ketika itu tidak menerima trend pacaran seperti saat ini.
Era komunikasi bebas
Menurut sourceiseng.blogspot.com di saat ini anak juga sudah menerima dampak dari era modern dari komunikasi. Mulai dari jejaring sosial,  game online, dan terlalu lama menonton TV. Tidak jauh beda dari kehidupan kita dahulu, fokus pada pelajaran masih saja terlupakan. Setidaknya untuk menonton TV saja anak saat ini sudah menghabiskan waktu di atas 4 jam. Seringkali guru mengeluhkan dampak dari tingkah laku anak akibat kondisi seperti itu.
Dahulu ketika kehidupan kita di SD (kisaran tahun 1997-2000an), kita sudah mulai belajar untuk bermain “keluarga-keluargaan”, namun anak masih tidak mengerti seperti apa pacaran yang sesungguhnya. Jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. Anak sudah mulai mengenal cinta sudah dari tingkat TK. Entah itu yang di comblangin orang tua, hingga dari pengalaman mereka menonton TV. Hal ini semakin parah dengan sajian TV yang memperlihatkan artis cilik yang sudah mengumbar cinta di muka umum. Yang seharusnya TV menjadi sarana kontrol sosial berbalik arah menjadi contoh social kehidupan.
Otomatis dalam kehidupan anak-anak, topik pembicaraan akan mengarah pada yang menjadi trend. Dan masalah pacaran sudah mulai mereka ketahui mulai dari tingkat SD. Bagaimana pandangan kita, baik sebagai orang tua, sebagai seorang guru, maupun sebagai masyarakat biasa yang tidak memiliki anak ? Apakah ada rasa bahagia melihat pergaulan bocah saat ini ?
Kita sadari bahwa tingkat kekritisan anak semakin tinggi saat ini, namun juga harus kita sadari bahwa tingkat kesadaran moral dan karakter anak semakin lama semakin tidak terkontrol. Topik komunikasi dalam pembicaraan anak semakin tidak teratur. Terlalu bebas untuk di terima anak, dan disini lah peran masyarakat begitu penting di berikan. Haruslah ada pengawasan sosial terhadap anak yang dilakukan oleh berbagai macam pihak.
Judul Tajuk Rencana : Waspadai Bahaya Perampokan Rangkaian peristiwa perampokan terjadi secara beruntun di wilayah Jakarta. Polisi semakin hari tidak seperti hilang kejantanan karena ulah kejahatan yang marak. Tak lagi memangdang waktu istirahat, karena siang hari para tindak criminal berani berpatroli. Solah tak ada lagi jaminan keamanan dari pemerintah di Indonesia ini. Bahkan dalam sehari perampokan dalapat terjadi sebanyak empat kali. Seperti tak takut akan aparat saja mereka. Menurut pendapat saya, kesalahan konsep reformasi yang menjadikan kondisi seperti ini. Kebebasan yang di harapkan saat itu tidaklah kekebasan yang mutlak. Kebebasan dalam bernegara haruslah ada batas dan ujungnya. Sedangkan sekarang, kondisi pembatasan itu sendiri rontok tak ada titik putih. Seakan hitam tak ada kebenaran yang mutlak. Hukum seperti lunak pada kekuasaan politik dan masyarakat kaya. Sepertinya benar jika kaum minoritas yang kaya menjadi penentu keputusan dalam hukum. Setiap pasal bisa dihargai dengan uang. Tak ada kesetaraan bagi kaum lemah. Kondisi sekarang hanya memperlihatkan hukuman yang tegas bagi orang lemah saja. Kesaksian untuk “apel-apel” DPR lebih tinggi dari kekuatan hukum. Mencuri beberapa biji jagung lebih besar hukumannya dari sebuah kasus korupsi wisma atlit. Pencuri sandal lebih memalukan dari seorang pemalsu surat kewajiban pajak. Hal ini menjadikan orang miskin menyesal menjadi miskin. Mereka miskin bukan karena keinginan mereka. itu sudah takdir mereka. yang seharusnya adalah bagaimana hukum itu bisa imbang dan tidak timpang. Jika disalahkan kepada penegak hukum maka kita juga salah besar. Jadi siapa yang salah untuk semua ini?apakah hanya pemerintah saja? Menurut saya tidak benar. Yang seharusnya bertanggung jawab adalah semua warga Negara. Semua kalangan memiliki tanggung jawab untuk kesetaraan Negara ini. Dan intinya pendidikan haruslah menjadi teladan untuk sebuah keadilan. Bukan sebuah kerja rodi yang dibebankan pada pelajar. Bukan sekedar mandat titipan menteri pendidikan saja kurikulum itu. Memang pendidikan tidak bisa menjamin alumni nanti akan menjadi teladan sepenuhnya. Namun haruslah kita pahami jika pendidikan formal menjadi kunci pendidikan kaum muda Negara ini. Baiklah kita menjadikan pendidikan ini lepas dari kepentingan politik, menjadikan sebuah lembaga pendidikan yang Non-Blok dan sebagai trendsetter tingkah laku lingkungan sekitar.