Selasa, 06 Maret 2012

Judul Tajuk Rencana : Waspadai Bahaya Perampokan Rangkaian peristiwa perampokan terjadi secara beruntun di wilayah Jakarta. Polisi semakin hari tidak seperti hilang kejantanan karena ulah kejahatan yang marak. Tak lagi memangdang waktu istirahat, karena siang hari para tindak criminal berani berpatroli. Solah tak ada lagi jaminan keamanan dari pemerintah di Indonesia ini. Bahkan dalam sehari perampokan dalapat terjadi sebanyak empat kali. Seperti tak takut akan aparat saja mereka. Menurut pendapat saya, kesalahan konsep reformasi yang menjadikan kondisi seperti ini. Kebebasan yang di harapkan saat itu tidaklah kekebasan yang mutlak. Kebebasan dalam bernegara haruslah ada batas dan ujungnya. Sedangkan sekarang, kondisi pembatasan itu sendiri rontok tak ada titik putih. Seakan hitam tak ada kebenaran yang mutlak. Hukum seperti lunak pada kekuasaan politik dan masyarakat kaya. Sepertinya benar jika kaum minoritas yang kaya menjadi penentu keputusan dalam hukum. Setiap pasal bisa dihargai dengan uang. Tak ada kesetaraan bagi kaum lemah. Kondisi sekarang hanya memperlihatkan hukuman yang tegas bagi orang lemah saja. Kesaksian untuk “apel-apel” DPR lebih tinggi dari kekuatan hukum. Mencuri beberapa biji jagung lebih besar hukumannya dari sebuah kasus korupsi wisma atlit. Pencuri sandal lebih memalukan dari seorang pemalsu surat kewajiban pajak. Hal ini menjadikan orang miskin menyesal menjadi miskin. Mereka miskin bukan karena keinginan mereka. itu sudah takdir mereka. yang seharusnya adalah bagaimana hukum itu bisa imbang dan tidak timpang. Jika disalahkan kepada penegak hukum maka kita juga salah besar. Jadi siapa yang salah untuk semua ini?apakah hanya pemerintah saja? Menurut saya tidak benar. Yang seharusnya bertanggung jawab adalah semua warga Negara. Semua kalangan memiliki tanggung jawab untuk kesetaraan Negara ini. Dan intinya pendidikan haruslah menjadi teladan untuk sebuah keadilan. Bukan sebuah kerja rodi yang dibebankan pada pelajar. Bukan sekedar mandat titipan menteri pendidikan saja kurikulum itu. Memang pendidikan tidak bisa menjamin alumni nanti akan menjadi teladan sepenuhnya. Namun haruslah kita pahami jika pendidikan formal menjadi kunci pendidikan kaum muda Negara ini. Baiklah kita menjadikan pendidikan ini lepas dari kepentingan politik, menjadikan sebuah lembaga pendidikan yang Non-Blok dan sebagai trendsetter tingkah laku lingkungan sekitar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar