Selasa, 06 Maret 2012


Komunikasi siswa yang tidak produktif
Berbicara tentang anak Sekolah Dasar kita tidak lepas dengan masa kecil kita dahulu. Ketika tiba disekolah, yang pertama akan dilakukan anak SD adalah bertemu dengan teman sebaya, kemudian menikmati permainan kecil dengan sesama teman. Itu dilakukan hingga bel masuk kelas berbunyi. Di kelas pun, kita lebih lekas bosan dalam menangkap pelajaran yang disampaikan guru. Cenderung bermain dengan teman sebangku atau mengganggu teman lain di samping kita. Sangat sedikit akhirnya pengetahuan yang kita bisa dapatkan dari proses belajar mengajar. Mungkin ini lah yang menyebabkan proses belajar mengajar di tingkat SD tidaklah begitu lama.
Karakteristik siswa SD yang kami dapat lihat beberapa di antaranya ada
·         Senang bermain
·         Senang melakukan sesuatu secara langsung
·         Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
·         Senang bergerak
·         Senang bekerja bersama-sama
Memang kebiasaan anak dari masa ke masa tidak banyak berbeda, namun kondisi bermain yang mulai memberikan perbedaan. Hal ini lah yang mengakibatkan timbul perbandingan kita akan pola kehidupan anak dari masa ke masa. Bagaimana pola komunikasi mereka hingga seperti apa lingkungan mereka saat itu dan kini. Berikut ulasan kecil kami mengenai perkembangan komunikasi anak dari masa ke masa.
Anak era 90-an
Jika kita pikir ulang kisah SD kita dahulu, seringkali percakapan tidak produktif kita bahas di lingkungan sekolah. Misalnya saja kita sering membahas tentang kisah film yang kita tonton seperti “kera sakti”, “power ranger”, “satria baja hitam”, dan masih banyak lagi percakapan tentang film yang kita sering bicarakan. Sadar atau tidak, sebenarnya percakapan tersebut membuat kita tidak memikirkan fokus yang harus kita kerjakan di sekolah.
Guru saat kita masih SD sangat keras untuk mengarahkan kita agar fokus mengajar, seringkali kekerasan seperti pukulan dan hukuman membersihkan WC diberikan; namun tidaklah menyelesaikan masalah ketika sanksi itu kita terima. Anak yang dibiasakan keluar dari ruang kelas karena kesalahannya akan menjadi malas ketika masuk kedalam kelas. Situasi lingkungan kelas yang tidak dapat menerima kondisi anak akan mengakibatkan kebencian anak itu sendiri terhadap kelas dan guru.
Memang jika kita sadari saat ini, topik pembicaraan di lingkungan sekolah baiknya adalah membahas tentang pelajaran. Namun kita juga menyadari bahwa kondisi bimbingan dalam lingkungan sekolah sendiri tidak memadai untuk anak dapat mengembangakan proses belajar. Ketika kurikulum CBSA tiba di sekolah dasar saat itu, guru cenderung membiasakan siswa untuk mencatat habis buku yang di jadikan pegangan. Dari 8 mata pelajaran wajib, paling tidak ada 1 mata pelajaran yang ditekankan untuk mencatat. Sangat jarang siswa di bimbing untuk mengembangkan proses pengetahuan dari pembelajaran itu sendiri.
Satu hal yang membuat bangga kita ketika duduk di sekolah dasar, lagu anak-anak ketika itu masih sangat terkenal. Mulai dari “aku cinta rupiah”, “kasih ibu”, “naik kereta api”, dan masih banyak lagu anak-anak yang sangat ngetrend disaat itu. Di dukung oleh artis anak-anak yang begitu ramai, mengakibatkan topik pembicaraan anak-anak dapat  kita batasi hanya membicarakan tentang kehidupan anak-anak saja. Setidaknya, anak SD ketika itu tidak menerima trend pacaran seperti saat ini.
Era komunikasi bebas
Menurut sourceiseng.blogspot.com di saat ini anak juga sudah menerima dampak dari era modern dari komunikasi. Mulai dari jejaring sosial,  game online, dan terlalu lama menonton TV. Tidak jauh beda dari kehidupan kita dahulu, fokus pada pelajaran masih saja terlupakan. Setidaknya untuk menonton TV saja anak saat ini sudah menghabiskan waktu di atas 4 jam. Seringkali guru mengeluhkan dampak dari tingkah laku anak akibat kondisi seperti itu.
Dahulu ketika kehidupan kita di SD (kisaran tahun 1997-2000an), kita sudah mulai belajar untuk bermain “keluarga-keluargaan”, namun anak masih tidak mengerti seperti apa pacaran yang sesungguhnya. Jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. Anak sudah mulai mengenal cinta sudah dari tingkat TK. Entah itu yang di comblangin orang tua, hingga dari pengalaman mereka menonton TV. Hal ini semakin parah dengan sajian TV yang memperlihatkan artis cilik yang sudah mengumbar cinta di muka umum. Yang seharusnya TV menjadi sarana kontrol sosial berbalik arah menjadi contoh social kehidupan.
Otomatis dalam kehidupan anak-anak, topik pembicaraan akan mengarah pada yang menjadi trend. Dan masalah pacaran sudah mulai mereka ketahui mulai dari tingkat SD. Bagaimana pandangan kita, baik sebagai orang tua, sebagai seorang guru, maupun sebagai masyarakat biasa yang tidak memiliki anak ? Apakah ada rasa bahagia melihat pergaulan bocah saat ini ?
Kita sadari bahwa tingkat kekritisan anak semakin tinggi saat ini, namun juga harus kita sadari bahwa tingkat kesadaran moral dan karakter anak semakin lama semakin tidak terkontrol. Topik komunikasi dalam pembicaraan anak semakin tidak teratur. Terlalu bebas untuk di terima anak, dan disini lah peran masyarakat begitu penting di berikan. Haruslah ada pengawasan sosial terhadap anak yang dilakukan oleh berbagai macam pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar