Komunikasi
siswa yang tidak produktif
Berbicara tentang anak Sekolah
Dasar kita tidak lepas dengan masa kecil kita dahulu. Ketika tiba disekolah,
yang pertama akan dilakukan anak SD adalah bertemu dengan teman sebaya,
kemudian menikmati permainan kecil dengan sesama teman. Itu dilakukan hingga
bel masuk kelas berbunyi. Di kelas pun, kita lebih lekas bosan dalam menangkap
pelajaran yang disampaikan guru. Cenderung bermain dengan teman sebangku atau
mengganggu teman lain di samping kita. Sangat sedikit akhirnya pengetahuan yang
kita bisa dapatkan dari proses belajar mengajar. Mungkin ini lah yang
menyebabkan proses belajar mengajar di tingkat SD tidaklah begitu lama.
Karakteristik siswa SD yang kami
dapat lihat beberapa di antaranya ada
·
Senang
bermain
·
Senang
melakukan sesuatu secara langsung
·
Memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi
·
Senang
bergerak
·
Senang
bekerja bersama-sama
Memang kebiasaan anak dari masa
ke masa tidak banyak berbeda, namun kondisi bermain yang mulai memberikan
perbedaan. Hal ini lah yang mengakibatkan timbul perbandingan kita akan pola
kehidupan anak dari masa ke masa. Bagaimana pola komunikasi mereka hingga
seperti apa lingkungan mereka saat itu dan kini. Berikut ulasan kecil kami
mengenai perkembangan komunikasi anak dari masa ke masa.
Anak
era 90-an
Jika kita pikir ulang kisah SD
kita dahulu, seringkali percakapan tidak produktif kita bahas di lingkungan
sekolah. Misalnya saja kita sering membahas tentang kisah film yang kita tonton
seperti “kera sakti”, “power ranger”, “satria baja hitam”, dan masih banyak
lagi percakapan tentang film yang kita sering bicarakan. Sadar atau tidak,
sebenarnya percakapan tersebut membuat kita tidak memikirkan fokus yang harus
kita kerjakan di sekolah.
Guru saat kita masih SD sangat
keras untuk mengarahkan kita agar fokus mengajar, seringkali kekerasan seperti
pukulan dan hukuman membersihkan WC diberikan; namun tidaklah menyelesaikan
masalah ketika sanksi itu kita terima. Anak yang dibiasakan keluar dari ruang
kelas karena kesalahannya akan menjadi malas ketika masuk kedalam kelas.
Situasi lingkungan kelas yang tidak dapat menerima kondisi anak akan
mengakibatkan kebencian anak itu sendiri terhadap kelas dan guru.
Memang jika kita sadari saat ini,
topik pembicaraan di lingkungan sekolah baiknya adalah membahas tentang
pelajaran. Namun kita juga menyadari bahwa kondisi bimbingan dalam lingkungan
sekolah sendiri tidak memadai untuk anak dapat mengembangakan proses belajar.
Ketika kurikulum CBSA tiba di sekolah dasar saat itu, guru cenderung
membiasakan siswa untuk mencatat habis buku yang di jadikan pegangan. Dari 8
mata pelajaran wajib, paling tidak ada 1 mata pelajaran yang ditekankan untuk
mencatat. Sangat jarang siswa di bimbing untuk mengembangkan proses pengetahuan
dari pembelajaran itu sendiri.
Satu hal yang membuat bangga kita
ketika duduk di sekolah dasar, lagu anak-anak ketika itu masih sangat terkenal.
Mulai dari “aku cinta rupiah”, “kasih ibu”, “naik kereta api”, dan masih banyak
lagu anak-anak yang sangat ngetrend
disaat itu. Di dukung oleh artis anak-anak yang begitu ramai, mengakibatkan
topik pembicaraan anak-anak dapat kita
batasi hanya membicarakan tentang kehidupan anak-anak saja. Setidaknya, anak SD
ketika itu tidak menerima trend
pacaran seperti saat ini.
Era
komunikasi bebas
Menurut sourceiseng.blogspot.com
di saat ini anak juga sudah menerima dampak dari era modern dari komunikasi. Mulai dari jejaring sosial, game
online, dan terlalu lama menonton TV. Tidak jauh beda dari kehidupan kita
dahulu, fokus pada pelajaran masih saja terlupakan. Setidaknya untuk menonton
TV saja anak saat ini sudah menghabiskan waktu di atas 4 jam. Seringkali guru
mengeluhkan dampak dari tingkah laku anak akibat kondisi seperti itu.
Dahulu ketika kehidupan kita di
SD (kisaran tahun 1997-2000an), kita sudah mulai belajar untuk bermain
“keluarga-keluargaan”, namun anak masih tidak mengerti seperti apa pacaran yang
sesungguhnya. Jauh berbeda dengan kehidupan saat ini. Anak sudah mulai mengenal
cinta sudah dari tingkat TK. Entah itu yang di comblangin orang tua, hingga dari pengalaman mereka menonton TV.
Hal ini semakin parah dengan sajian TV yang memperlihatkan artis cilik yang
sudah mengumbar cinta di muka umum. Yang seharusnya TV menjadi sarana kontrol
sosial berbalik arah menjadi contoh social kehidupan.
Otomatis dalam kehidupan
anak-anak, topik pembicaraan akan mengarah pada yang menjadi trend. Dan masalah pacaran sudah mulai
mereka ketahui mulai dari tingkat SD. Bagaimana pandangan kita, baik sebagai
orang tua, sebagai seorang guru, maupun sebagai masyarakat biasa yang tidak
memiliki anak ? Apakah ada rasa bahagia melihat pergaulan bocah saat ini ?
Kita sadari bahwa tingkat
kekritisan anak semakin tinggi saat ini, namun juga harus kita sadari bahwa
tingkat kesadaran moral dan karakter anak semakin lama semakin tidak
terkontrol. Topik komunikasi dalam pembicaraan anak semakin tidak teratur.
Terlalu bebas untuk di terima anak, dan disini lah peran masyarakat begitu
penting di berikan. Haruslah ada pengawasan sosial terhadap anak yang dilakukan
oleh berbagai macam pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar